Kemampuan literasi sains di Indonesia masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan, sebagaimana ditunjukkan oleh rendahnya skor PISA yang secara konsistensi berada di bawah standar rata-rata internasional. Kondisi ini sangat terlihat pada yang memiliki karakteristik kompleks, dinamis, dan bersifat abstrak atau “tidak kasat mata”, sehingga sulit dipahami melalui pembelajaran konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh signifikan penerapan model pembelajaran blended learning terhadap peningkatan kemampuan literasi sains siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur (meta-analisis) terhadap berbagai hasil penelitian eksperimental dan kajian ilmiah yang relevan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan blended learning memberikan dampak yang sangat signifikan dengan perolehan nilai effect size rata-rata sebesar 1,121, yang dibatasi dalam tingkat pengaruh tinggi. Rata-rata ketercapaian indikator literasi sains siswa mencapai 82,93%, yang meliputi kemampuan memahami fenomena ilmiah (86,29%), mengidentifikasi permasalahan ilmiah (83,60%), dan memecahkan masalah secara ilmiah (85,48%). Sinergi antara pembelajaran tatap muka dan eksplorasi digital terbukti mampu menjembatani hambatan visualisasi pada konsep biologi yang abstrak serta meningkatkan kemandirian belajar siswa. Dapat disimpulkan bahwa blended learning merupakan strategi pedagogi yang efektif dan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan biologi di era digital. Kata kunci: Blended Learning, Literasi Sains, Hasil Belajar, Biologi, Sistem Reproduksi.
Copyrights © 2026