Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan presentasi kolaboratif mahasiswa pada Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum di Sekolah Dasar. Hasil studi pendahuluan terhadap 55 mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar menunjukkan bahwa dimensi presentasi kolaboratif menjadi aspek terendah dibandingkan dimensi keterampilan kolaborasi lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kerja kelompok belum sepenuhnya berkembang menjadi kolaborasi akademik yang bermakna. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kepraktisan Model Cooperative Learning Berbasis Interdependensi Sosial (CLBIS) pada Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum di Sekolah Dasar. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (research and development) yang diadaptasi dari Borg and Gall (1983). Uji coba terbatas melibatkan 32 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Adzkia pada semester genap tahun akademik 2025/2026. Kepraktisan model dianalisis berdasarkan lima indikator, yaitu kemudahan implementasi, kejelasan prosedur pembelajaran, keberfungsian perangkat pendukung, efisiensi waktu, serta respons dosen dan mahasiswa. Data dikumpulkan melalui angket respons dosen dan mahasiswa, lembar observasi keterlaksanaan model, serta catatan lapangan singkat. Data dianalisis secara deskriptif dengan menghitung skor rata-rata kepraktisan dan persentase keterlaksanaan sintaks model CLBIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model CLBIS memperoleh skor rata-rata kepraktisan sebesar 3,70 dari skala 4,00 dengan tingkat keterlaksanaan sebesar 88% dan termasuk dalam kategori sangat praktis. Aspek perangkat pendukung memperoleh skor tertinggi, sedangkan efisiensi waktu masih memerlukan penyesuaian pada tahap awal implementasi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa model CLBIS praktis digunakan pada Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum di Sekolah Dasar dan berpotensi memperkuat keterampilan kolaborasi mahasiswa.
Copyrights © 2026