Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk kesalahan dan miskonsepsi siswa kelas IV sekolah dasar dalam materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 101774 Sampali dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas guru dan siswa kelas IV. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi pembelajaran matematika serta wawancara semi terstruktur dengan guru kelas IV. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama miskonsepsi siswa, yaitu kesalahan memahami pecahan sebagai bagian dari keseluruhan, kesalahan membandingkan nilai pecahan berdasarkan penyebut, dan kesalahan prosedural dalam operasi penjumlahan pecahan berbeda penyebut. Siswa cenderung menjumlahkan pembilang dan penyebut secara langsung tanpa menyamakan penyebut terlebih dahulu. Faktor penyebab miskonsepsi meliputi lemahnya pemahaman konsep dasar pecahan, penggunaan metode pembelajaran yang terlalu cepat, minimnya media konkret, serta perbedaan kemampuan awal siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru menerapkan penggunaan alat peraga konkret, diskusi kelompok, dan asesmen diagnostik awal guna mengetahui tingkat pemahaman siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa miskonsepsi pada materi pecahan bersifat multidimensional sehingga penanganannya memerlukan pembelajaran berbasis pemahaman konseptual, penggunaan media manipulatif secara konsisten, serta strategi pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi guru dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah dasar.
Copyrights © 2026