Latar Belakang: Office Syndrome merupakan kumpulan keluhan muskuloskeletal yang disebabkan oleh postur kerja statis, durasi kerja yang lama, dan penggunaan fasilitas kerja yang tidak ergonomis. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa postur kerja yang buruk, desain workstation yang tidak ergonomis, penggunaan komputer berkepanjangan, serta beban kerja mental yang tinggi berkontribusi terhadap gangguan muskuloskeletal (MSDs). Namun, penelitian yang mengkaji pengaruh ergonomi dan beban kerja mental secara bersamaan pada dosen dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi kesehatan masih terbatas. Tujuan: Menganalisis pengaruh faktor ergonomi dan beban kerja mental terhadap kejadian Office Syndrome pada dosen dan tenaga kependidikan . Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif potong lintang pada 88 responden secara purposive. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner ergonomi, NASA-TLX, dan kuesioner Office Syndrome. Uji validitas menunjukkan r hitung > r tabel (0,361) dan uji reliabilitas Cronbach’s Alpha > 0,7. Hasil uji Somers’d menunjukkan hubungan signifikan ergonomi dan Office Syndrome (p= 0,032) serta beban kerja mental dan Office Syndrome (p= 0,007). Analisis regresi logistik ordinal menunjukkan ergonomi (p= 0,030), beban kerja mental (p= 0,019) berpengaruh signifikan terhadap tingkat Office Syndrome. Kesimpulan: Faktor ergonomi dan beban kerja mental berpengaruh secara signifikan terhadap keluhan office syndrome. Perlu dilakukan intervensi berupa perbaikan lingkungan kerja ergonomis serta pengelolaan beban kerja mental untuk menurunkan risiko keluhan fisik lingkungan pendidikan tinggi.
Copyrights © 2026