Latar Belakang: Hopitalisasi sering kali mengharuskan anak-anak menjalani prosedur invasif, yang dapat menyebabkan kecemasan dan rasa sakit. Anak-anak usia prasekolah cenderung menolak perawatan dan tidak koopetaif saat mengalami rasa sakit akibat prosedur invasif, sehingga mengganggu proses perawatan. Manajemen nyeri yang efektif sangat penting untuk mendukung proses perawatan. Salah satu pendekatan manajemen nyeri non-farkalologis yang dapat diterapkan adalah storytelling. Metodologi: penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan kelompok kontrol posttest only, yang berfokus pada variabel independent storytelling dengan variabel dependen tingkat nyeri. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih 32 responden anak usia prasekolah sebagai partisipan, yang dibagi menjadi 16 anak kelompok kontrol dan 16 anak kelompok storytelling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Wong Baker Face Pain Scale (WBS). Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat nyeri pada kelompok kontrol adalah 5.63, dengan rentang nyeri skala 4-8. Tingkat nyeri pada kelompok storytelling adalah 3.88 dengan rentang nyeri skala 2-6. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada tingkat nyeri antara kelompok storytelling dan kelompok kontrol, dengan p value 0.0031. Kesimpulan: Terdapat pengaruh storytelling dalam mengurangi nyeri akibat prosedur invasif pada anak usia prasekolah
Copyrights © 2025