Penelitian ini bertujuan untuk memahami potensi terjadinya penipuan dalam sistem pemberian ongkos kirim pada layanan pesan-antar berbasis aplikasi khususnya pada mekanisme orderan gabungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi hermeneutik untuk menggali pengalaman langsung mitra driver. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap dua mitra driver aktif yang telah bekerja lebih dari satu tahun dan memiliki pengalaman dalam menjalankan orderan gabungan. Teknik analisis data menggunakan model interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem gabungan cenderung merugikan driver mitra, baik secara finansial maupun non-finansial. Secara finansial, ongkos kirim yang diterima tidak sebanding dengan beban kerja, jarak tempuh, serta waktu tunggu yang lebih lama. Sementara itu, secara non-finansial, pengemudi mengalami tekanan psikologis, konflik dengan pelanggan, serta risiko penurunan penilaian layanan. Selain itu, sistem yang bersifat otomatis dan kurang transparan membuat driver tidak memiliki pilihan untuk menolak pesanan, sehingga tetap menerima meskipun berpotensi merugikan. Temuan ini menunjukkan bahwa potensi kecurangan tidak hanya berasal dari tindakan individu, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh sistem desain yang belum sepenuhnya adil dan transparan.
Copyrights © 2026