Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hambatan struktural dan kultural yang dihadapi guru perempuan di Kabupaten Brebes dalam mengembangkan karier mereka di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Meskipun jumlah guru perempuan melebihi guru laki-laki, data menunjukkan bahwa representasi mereka dalam posisi struktural atau posisi kepemimpinan seperti kepala sekolah masih sangat rendah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus (FGD) di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Brebes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan struktural, seperti birokrasi yang kurang responsif gender, akses terbatas pada pelatihan kepemimpinan, dan diskriminasi dalam penempatan kerja, merupakan faktor signifikan yang menghambat karier guru perempuan. Lebih lanjut, hambatan kultural seperti nilai-nilai patriarki yang kuat, stereotip gender, dan beban peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan pendidik, semakin membatasi kesempatan mereka untuk menduduki posisi strategis. Temuan ini menggarisbawahi perlunya kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan dukungan sistemik untuk memberdayakan guru perempuan, sejalan dengan komitmen terhadap kesetaraan gender dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
Copyrights © 2026