Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas akuakultur bernilai ekonomi tinggi yang rentan terhadap hepatopancreatic microsporidiosis akibat infeksi Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). Infeksi EHP pada stadia benur umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas sehingga deteksi dini diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke tambak pembesaran. Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan EHP dan menentukan prevalensi infeksinya pada benur udang vanname stadia PL16–PL20 yang berasal dari empat lokasi di Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 80 sampel benur dikumpulkan dari Banyuwangi, Situbondo, Sidoarjo, dan Tuban, masing-masing sebanyak 20 sampel. Deteksi EHP dilakukan melalui ekstraksi deoxyribonucleic acid (DNA), amplifikasi menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dengan target fragmen 510 pasangan basa, dan visualisasi menggunakan elektroforesis gel agarosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel dari Banyuwangi dan Situbondo negatif terhadap EHP dengan prevalensi 0%. Sebaliknya, lima dari 20 sampel benur asal Sidoarjo terdeteksi positif dengan prevalensi 25%, sedangkan tiga dari 20 sampel asal Tuban positif dengan prevalensi 15%. Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi EHP dapat terjadi sejak stadia benur dan memperlihatkan variasi prevalensi antarwilayah. Oleh karena itu, penerapan biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air yang optimal, serta penggunaan induk dan benur bersertifikat bebas patogen perlu diprioritaskan untuk mengurangi risiko penyebaran EHP pada sistem budidaya udang vanname.
Copyrights © 2026