Latar belakang: Hiperurisemia adalah kondisi di mana kadar asam urat dalam darah melebihi batas normal. Salah satu kelompok yang rentan terkena penyakit hiperurisemia adalah lansia. Jenis kelamin dan usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi risiko Hiperurisemia. Puskesmas Gamping 1 secara aktif melakukan pemeriksaan enzimatik pada lansia dengan faktor risiko hiperurisemia, serta pada lansia yang telah terdiagnosis hiperurisemia sebagai bagian dari upaya deteksi dini, diagnosis, dan pemantauan hiperurisemia pada Masyarakat. Tujuan: untuk mengetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejadian hiperurisemia pada lansia di puskesmas gamping 1, Yogyakarta Metode: secara analitik observasional dengan jenis pendekatan cross-sectional pada 253 responden secara total sampling di Labkes Puskesmas Gamping 1. Alat instrumen berupa komputer laboratorium untuk mengumpulkan data responden dan SPSS untuk menganalisis data secara statistik inferensial untuk mengetahui kejadian hiperurisemia. Kadar asam urat diukur dengan metode enzimatik. Hasil: Kejadian hiperurisemia lebih tinggi pada lansia usia ≥70 tahun (37,2%) dibanding usia 60–69 tahun (34,1%). Berdasarkan jenis kelamin, proporsi hiperurisemia pada laki-laki lebih tinggi (43,5%) daripada perempuan (30,4%). Kesimpulan: Uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara usia dengan hiperurisemia (p=0,431; p>0,05). Namun, terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian hiperurisemia (p=0,037; p<0,05).
Copyrights © 2026