Penelitian ini menginvestigasi dampak krisis geopolitik (2014–2019 vs. 2020–2026) terhadap efisiensi pasar, pengakuan laba, dan risiko akuntansi pada minyak mentah (Brent) dan emas. Menggunakan Multifractal Detrended Fluctuation Analysis (MF-DFA) yang diintegrasikan dengan Empirical Mode Decomposition (EMD) (Rydin et al., 2022), penelitian ini mengekstraksi spektrum multifraktal (∆α) dan eksponen Hurst (H). Hasil empiris menunjukkan perilaku yang sangat berbeda: pasar emas terdegradasi dari kondisi rasional menjadi tidak efisien dan anti-persisten (∆α) melebar dari 0,1793 menjadi 0,5823; H turun menjadi 0,4120) akibat kepanikan spekulatif. Sebaliknya, Brent menunjukkan ketahanan struktural (H bergeser dari 0,5455 ke 0,4612). Meningkatkan temuan Cheng et al. (2026), studi ini membuktikan bahwa faktor penawaran dan permintaan fisik pada komoditas energi menstabilkan struktur pasar Brent, sehingga membatasi perilaku spekulatif yang umumnya memengaruhi aset safe-haven. Sebagai implikasinya, volatilitas emas menyulitkan pengukuran nilai wajar dan meningkatkan risiko akuntansi, sementara ketahanan Brent mendukung pengakuan laba yang lebih konsisten. Kesimpulannya, krisis ekstrem tidak mendegradasi efisiensi pasar secara seragam pada seluruh kelas aset.
Copyrights © 2026