Penelitian ini mengkaji representasi diskriminasi sosial terhadap keluarga eks-tahanan politik (eks-Tapol) dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode sosiologi sastra, yang diperkuat melalui integrasi teori stigma dan konsep memori kolektif. Data dikumpulkan melalui teknik studi pustaka dan dianalisis menggunakan model reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa diskriminasi dalam novel ini terwujud dalam empat bentuk utama: diskriminasi simbolik (stereotip dan pelabelan negatif), diskriminasi struktural (ketimpangan relasi sosial berdasarkan garis keturunan), diskriminasi institusional (ketidakadilan sistem pendidikan dan aparat negara), serta diskriminasi kultural (normalisasi kekerasan domestik dan budaya diam). Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra tidak sekadar berfungsi sebagai media dokumentasi trauma sejarah antargenerasi, melainkan menjadi instrumen kritis yang menggugat dominasi narasi sejarah resmi sekaligus membuka ruang rekonsiliasi dan kesadaran kritis kolektif di masyarakat.
Copyrights © 2026