Limbah styrofoam, seperti bekas kemasan elektronik, sulit terurai sehingga dapat mencemari lingkungan dan belum dimanfaatkan secara komersial. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai guna limbah tersebut adalah memanfaatkannya sebagai binder dalam pembuatan cat berbasis air yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum kombinasi jenis pelarut styrofoam (toluena, metil etil keton, xilena, gasoline, dan butil asetat) serta rasio antara pigmen TiO2 dan filler CaCO3 (50:50 b/b dan 60:40 b/b) pada pembuatan cat berbasis air. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu pembuatan binder lem lateks dari styrofoam bekas dan formulasi cat berbasis air. Binder diperoleh melalui pelarutan styrofoam bekas dan penambahan larutan sodium lauril sulfat hingga terbentuk emulsi lem lateks. Binder kemudian dicampurkan dengan akuades, TiO2, dan CaCO3 untuk menghasilkan cat berbasis air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum cat berbasis air dari limbah styrofoam bekas kemasan elektronik diperoleh pada binder lem lateks berpelarut xilena dan rasio pigmen TiO2:filler CaCO3 sebesar 50:50 dengan karakteristik viskositas 194,5 cSt (memenuhi SNI 3564:2009), waktu kering 6,8 menit (memenuhi SNI 3564:2009), daya rekat 90,6% (memenuhi ASTM D3359), hardness 6H (memenuhi ASTM D3363), daya tutup 8 m2/L (SNI 3564:2014), kestabilan cat selama 9 hari (belum memenuhi SNI 3564:2009), dan ketahanan air 74,5%. Keterbatasan penelitian ini adalah bahwa kestabilan cat belum memenuhi SNI 3564:2009. Penelitian ini memberikan alternatif pengelolaan limbah styrofoam bekas kemasan elektronik sebagai bahan baku binder cat berbasis air yang memenuhi sebagian besar persyaratan mutu.
Copyrights © 2026