Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi musik ibadah kontemporer di era digital serta implikasinya terhadap relasi antara pengalaman estetis dan pengalaman spiritual Generasi Z dalam praktik gereja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis melalui studi literatur dan observasi praktik ibadah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi memperkuat dimensi estetis musik ibadah melalui peningkatan kualitas audiovisual, akses personal, dan pengalaman worship yang lebih visual serta emosional. Namun, dominasi estetika berpotensi menggeser musik ibadah dari praktik liturgis komunal menuju konsumsi spiritual individual yang tidak selalu menghasilkan pembentukan iman. Studi ini menegaskan bahwa pengalaman estetis tidak secara otomatis menghasilkan kedalaman spiritual, tetapi memerlukan integrasi dengan liturgi partisipatif, refleksi teologis, dan formasi iman. Dengan menggunakan perspektif estetika liturgis Don Saliers dan desire formation James’s K. A. Smith, penelitian ini menyimpulkan bahwa musik ibadah digital perlu diarahkan bukan hanya sebagai pengalaman artistik, tetapi sebagai medium estetis-spiritual yang membentuk orientasi iman Generasi Z secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026