Sindrom metabolik (SM) merupakan kumpulan gangguan metabolisme yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Anggota kepolisian, dengan beban kerja berat dan durasi kerja yang panjang, rentan terhadap SM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan karakteristik personal, sistem kerja, dan gaya hidup terhadap kejadian SM pada anggota polisi di Polsek Bandung Wetan. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik cross-sectional dengan populasi sebanyak 55 anggota polisi. Sampel berjumlah 39 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pemeriksaan fisik (lingkar pinggang, tekanan darah, glukosa darah puasa, dan kolesterol total). Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan continuity correction. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 41% responden mengalami sindrom metabolik, dengan obesitas sentral (76,9%), hiperglikemia (71,8%), dan hipertensi (53,8%) sebagai komponen dominan. Faktor personal (usia dan riwayat penyakit keluarga), pendidikan terakhir, serta penghasilan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Demikian pula, durasi kerja, tempat kerja, dan kebiasaan merokok tidak berhubungan signifikan dengan kejadian SM. Namun, stres kerja berhubungan signifikan dengan kejadian SM (p = 0,001; OR = 98,27; 95% CI = 4,99–1934,39). Pada faktor gaya hidup, durasi tidur yang tidak sesuai (p = 0,001; OR = 1551,0; 95% CI = 29,27–82197,60), aktivitas fisik tidak aktif (p = 0,966; OR = 181,29; 95% CI = 8,69–3781,87), kurangnya konsumsi sayur dan buah (p = 0,046; OR = 16,92; 95% CI = 0,84–340,28), serta tingginya konsumsi makanan berisiko (p = 0,006; OR = 29,10; 95% CI = 1,50–565,47) memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian SM. Kesimpulannya, sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada anggota polisi dan dipengaruhi secara kuat oleh stres kerja serta gaya hidup. Intervensi komprehensif yang berfokus pada manajemen stres dan perbaikan gaya hidup sangat diperlukan.
Copyrights © 2026