Kehamilan tidak diharapkan merupakan kondisi ketika kehamilan terjadi tanpa kesiapan atau keinginan salah satu maupun kedua pasangan, yang sering berkaitan dengan rendahnya dukungan suami dan berisiko mempengaruhi keputusan reproduksi. Seorang perempuan berusia 32 tahun dengan kehamilan tidak diharapkan tidak melakukan pemeriksaan antenatal akibat penolakan dan kurangnya dukungan suami. Pasien mengonsumsi obat penggugur kandungan secara mandiri hingga mengalami intrauterine fetal death (IUFD) disertai parsial HELLP syndrome, hipoglikemia, hipokalemia, dan gangguan metabolik yang memerlukan stabilisasi kondisi serta terminasi kehamilan di rumah sakit rujukan. Selama perawatan hingga masa nifas, pasien tidak memperoleh dukungan emosional, instrumental, informasional, maupun penghargaan dari suami. Bidan memberikan asuhan berupa stabilisasi kondisi, pemantauan nifas, konseling psikologis, edukasi kesehatan reproduksi, konseling kontrasepsi, serta tindak lanjut melalui telehealth. Kasus ini menunjukkan bahwa kurangnya dukungan suami diduga berkontribusi terhadap penolakan kehamilan, rendahnya pemanfaatan pelayanan antenatal, dan pengambilan keputusan reproduksi yang tidak aman sehingga meningkatkan risiko komplikasi maternal dan perinatal. Oleh karena itu, diperlukan asuhan kebidanan yang holistik, berpusat pada perempuan, berbasis keluarga, serta didukung konseling pasangan untuk mencegah terulangnya kehamilan tidak diharapkan beserta komplikasinya.
Copyrights © 2026