Perkembangan tren fashion global dan budaya populer telah memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap budaya lokal, termasuk batik dan tenun sebagai bagian dari wastra Indonesia. Batik masih sering dipersepsikan sebagai pakaian formal yang kurang sesuai dengan gaya hidup modern sehingga minat generasi muda terhadap penggunaannya cenderung menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi komunikasi budaya melalui Campaign Wastra Culture dalam meningkatkan kesadaran dan kebanggaan generasi muda terhadap wastra Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus pada Campaign Wastra Culture yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang. Data diperoleh melalui observasi kegiatan, dokumentasi, analisis media sosial Instagram dan TikTok, serta evaluasi aktivitas kampanye yang dilakukan di Car Free Day Simpang Lima Semarang, Kota Lama Semarang, Grand Maerakaca, dan Dies Natalis ke-39 Universitas Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi budaya yang dikombinasikan dengan media sosial, aktivitas ruang publik, dan kolaborasi bersama UMKM Ratimaya mampu meningkatkan perhatian, ketertarikan, pencarian informasi, partisipasi, serta penyebaran pesan budaya di kalangan generasi muda. Campaign Wastra Culture berhasil menjadikan batik sebagai simbol budaya yang relevan dengan gaya hidup modern tanpa menghilangkan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Copyrights © 2026