Penelitian ini bertujuan untuk meluruskan stereotip negatif mengenai pola komunikasi masyarakat Batak Toba yang sering disalahartikan sebagai perilaku agresif dan tidak santun oleh masyarakat luar. Dengan menggunakan pendekatan etnopragmatik, penelitian ini menganalisis hubungan dialektis antara praktik wacana dan nilai budaya yang melatarbelakanginya. Data dikumpulkan melalui metode observasi partisipatif dan teknik pancingan (elicitation) dalam latar alamiah, khususnya di kedai tuak (Lapo) dan acara adat. Analisis data menerapkan teori Sosiopragmatik Geoffrey Leech dan norma Komunitas Praktis Jonathan Culpeper. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, tradisi Martarombo berfungsi sebagai tindak tutur performatif wajib untuk navigasi sosial guna menentukan status kekerabatan sebelum interaksi inti dimulai. Kedua, strategi kelugasan (directness) dan intonasi keras bukanlah manifestasi arogansi, melainkan beroperasi sebagai Mock Impoliteness (ketidaksantunan semu) yang bertujuan memperkuat solidaritas dan mencerminkan nilai Haburjuon (kejujuran). Ketiga, pertanyaan terkait ranah privasi merupakan implikatur budaya yang merepresentasikan kepedulian kolektif yang berakar pada filosofi Dalihan Na Tolu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa apa yang dianggap "kasar" sesungguhnya adalah bentuk kesantunan positif dalam logika internal komunitas, dan kompetensi etnopragmatik mutlak diperlukan untuk menghindari kegagalan pragmatik lintas budaya.
Copyrights © 2026