Abstrak: Penelitian ini mengkaji partisipasi generasi muda dalam melestarikan kesenian tradisi melalui program Ruang Seni Kreatif yang diinisiasi oleh Karang Taruna Desa Rancamanyar. Penelitian ini bertujuan menjelaskan posisi dan peran Karang Taruna sebagai ruang publik tempat berlangsungnya negosiasi identitas budaya bagi generasi muda. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan menggunakan teori Ruang Publik dari Jürgen Habermas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karang Taruna Desa Rancamanyar menjadi arena bertemunya berbagai gagasan pemuda dan pelaku seni untuk menegosiasikan nilai-nilai tradisi di tengah arus modernisasi. Namun, proses ini menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan fasilitas, dukungan pemerintah yang belum maksimal, dan tantangan situasi pandemi Covid-19. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Karang Taruna berhasil merangkul pemuda dalam mengelola potensi kesenian lokal. Melalui program Ruang Seni Kreatif, generasi muda tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga aktif menegosiasikan kembali identitas budaya mereka agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Kata Kunci: Negosiasi identitas, Karang Taruna, kesenian tradisi, ruang publik, Rancamanyar. Abstract: This study examines the participation of the younger generation in preserving traditional arts through the Creative Arts Space program initiated by the Karang Taruna organization in Rancamanyar Village. This study aims to explain the position and role of Karang Taruna as a public sphere where the negotiation of cultural identity among youth takes place. This study used a qualitative method with observation and interview techniques for data collection. The data were analyzed using Jürgen Habermas's Public Sphere theory. The results show that Karang Taruna in Rancamanyar Village serves as an arena where the ideas of the younger generation and local artists meet to negotiate traditional values amidst modernization. However, this process faces several obstacles, such as lack of facilities, minimal government support, and challenges from the Covid-19 pandemic. This study concludes that Karang Taruna successfully engages youth in managing local art potential. Through the Creative Arts Space program, the younger generation not only preserves traditions but also actively renegotiates their cultural identity to remain relevant to contemporary developments. Keywords: Identity negotiation, Karang Taruna, traditional arts, public sphere, Rancamanyar.
Copyrights © 2026