This study investigates the role of Bottingge as a cultural mediator in the Mappanessa Dui Menre tradition and its effectiveness in mitigating the Silariang (elopement) phenomenon within the Bugis community of South Sulawesi. Previous studies on Bugis marriage have primarily examined Dui Menre as a cultural tradition, with limited attention to the changing communication and negotiation processes within Mappanessa, particularly amid the tension between Islamic values of simplicity and increasingly burdensome customary demands. This study offers novelty by exploring how cultural mediation and negotiation strategies are practiced in contemporary Bugis society, especially among younger generations seeking to balance tradition, family expectations, and social well-being. Using a qualitative descriptive method with a communication ethnography approach, data were collected through participant observation and in-depth interviews with traditional leaders, Bottingge practitioners, and families involved in marriage negotiations across South Sulawesi. The findings reveal that the meaning of Dui Menre (bride price) has shifted toward material prestige, often leading to negotiation deadlocks between family honor (Siri’) and economic capability. In this context, Bottingge functions as a vital “safety valve” by employing persuasive communication and cultural mediation to rationalize financial demands without compromising dignity. A competent mediator can transform potential conflict into consensus through the principles of Sipakatau (mutual respect) and Pesse (empathy). Therefore, strengthening mediation practices that emphasize Sipakatau, Pesse, and Mabbulo Sipeppa is essential to reduce Silariang, minimize excessive dowry demands, and preserve harmonious Bugis marriage traditions. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Bottingge sebagai mediator budaya dalam tradisi Mappanessa Dui Menre serta efektivitasnya dalam memitigasi fenomena Silariang (kawin lari) pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai perkawinan Bugis umumnya memandang Dui Menre sebagai tradisi budaya semata, dengan perhatian yang masih terbatas terhadap perubahan proses komunikasi dan negosiasi dalam Mappanessa, terutama di tengah ketegangan antara nilai-nilai Islam yang menekankan kesederhanaan dan tuntutan adat yang semakin memberatkan. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengeksplorasi bagaimana mediasi budaya dan strategi negosiasi dipraktikkan dalam masyarakat Bugis kontemporer, khususnya di kalangan generasi muda yang berupaya menyeimbangkan tradisi, harapan keluarga, dan kesejahteraan sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh adat, praktisi Bottingge, serta keluarga yang terlibat dalam negosiasi pernikahan di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Dui Menre (uang belanja) telah bergeser menuju simbol prestise material yang sering memicu kebuntuan negosiasi antara kehormatan keluarga (Siri’) dan kemampuan ekonomi. Dalam konteks ini, Bottingge berfungsi sebagai “katup pengaman” melalui komunikasi persuasif dan mediasi budaya untuk merasionalisasi tuntutan finansial tanpa mengurangi martabat pihak perempuan. Mediator yang kompeten mampu mengubah potensi konflik menjadi konsensus melalui prinsip Sipakatau (saling menghormati) dan Pesse (empati). Oleh karena itu, penguatan praktik mediasi yang menekankan Sipakatau, Pesse, dan Mabbulo Sipeppa menjadi penting untuk mengurangi Silariang, meminimalkan tuntutan uang belanja yang berlebihan, serta menjaga keharmonisan tradisi perkawinan Bugis.
Copyrights © 2026