Masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan identitas, namun juga rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, seperti fisik, psikologis, verbal, dan digital. Penanggulangan masalah ini membutuhkan pendekatan edukatif yang komprehensif dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Model Edukasi “SALLY” untuk pencegahan kekerasan pada remaja di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Bayah dengan menggunakan desain ADDIE. Tahap awal dilakukan melalui penelitian kualitatif untuk analisis kebutuhan, dilanjutkan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross-sectional dan quasi-eksperimen. Sebanyak 112 responden diperoleh dari 600 siswa kelas XI melalui sampling acak, sedangkan uji quasi-eksperimen melibatkan 60 siswa yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan model edukasi "SALLY" berhasil meningkatkan pengetahuan pada 92% siswa. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara Self-Awareness (nilai p = 0,000), Assertiveness (nilai p = 0,044), Live Support (nilai p = 0,003), Literacy Digital (nilai p = 0,000), dan Youth-peer Facilitation (nilai p = 0,014) dengan pengetahuan pencegahan kekerasan. Self-Awareness terbukti sebagai variabel yang paling dominan dengan Exp(B) = 11.444. Uji T-test menunjukkan perubahan signifikan pada kelompok intervensi (mean difference = -20,1, nilai p = 0,000), yang mengindikasikan efektivitas model dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pencegahan kekerasan. Model Edukasi "SALLY" terbukti efektif dalam pencegahan kekerasan pada remaja dan dapat diimplementasikan sebagai program edukasi berbasis sekolah dan komunitas. Diperlukan pengembangan lebih lanjut pada aspek visual dan keterbacaan media edukatif serta penerapan model secara lebih luas untuk mengukur dampak jangka panjangnya.
Copyrights © 2026