Penggunaan semen portland sebagai material utama beton menyumbang emisi CO2 global, sehingga memicu inovasi beton ramah lingkungan menggunakan limbah industri berupa Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) dan fly ash. Penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan ilmiah (research gap) pada penelitian sebelumnya dengan berfokus pada pengaruh pematangan umur beton serta variasi rasio tulangan terhadap kinerja kuat lentur balok beton bertulang demi mendukung implementasi teknologi beton hijau (green building) di Indonesia. Penelitian eksperimental laboratorium ini menguji balok beton bertulang berukuran 100 cm × 10 cm × 20 cm bersubstitusi GGBFS 20% dan fly ash 10%. Pengujian lentur menerapkan sistem two point loading pada posisi third point loading dengan variasi umur beton (28 dan 56 hari) serta rasio tulangan (A1 = 0,00872 dan A2 = 0,0130). Berdasarkan hasil penelitian, variasi umur beton antara 28 dan 56 hari tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kuat lentur balok beton bertulang bersubstitusi GGBFS 20% dan fly ash 10%. Sebaliknya, variasi rasio tulangan berpengaruh signifikan terhadap kuat lentur balok, dimana peningkatan rasio tulangan secara efektif mendongkrak kemampuan penampang dalam memikul beban dan tegangan. Spesimen dengan rasio tulangan lebih tinggi (A2) menghasilkan performa yang jauh lebih tinggi dibandingkan rasio tulangan rendah (A1).
Copyrights © 2026