Penelitian ini mengkaji proses dan eskalasi konflik dalam Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974 di Jakarta. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah Orde Baru, khususnya dominasi penanaman modal asing, maraknya praktik korupsi, serta rencana pembangunan proyek-proyek besar yang dinilai tidak mendesak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi tahapan pemilihan topik, heuristik (pengumpulan sumber sekunder), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa yang semula berupa demonstrasi damai untuk menuntut pembubaran Asisten Pribadi (Aspri), penurunan harga, dan pemberantasan korupsi, akhirnya berubah menjadi kerusuhan dan perusakan massal. Perubahan ini dipicu oleh infiltrasi kelompok non-mahasiswa ke dalam barisan demonstran, serta diperparah oleh persaingan dan konflik kepentingan di antara elite militer, khususnya antara Ali Moertopo dan Jenderal Soemitro. Pascakerusuhan, pemerintah Orde Baru menahan sejumlah aktivis mahasiswa seperti Hariman Siregar dan membangun narasi resmi yang menuduh elemen eks-PSI dan Masyumi sebagai aktor subversif di balik peristiwa tersebut. Kesimpulannya, Peristiwa Malari mengungkap kerapuhan stabilitas politik awal Orde Baru serta faksionalisme di tubuh militer, yang kemudian mendorong Presiden Soeharto untuk mengubah gaya kepemimpinannya menjadi lebih sentralistik dan menuntut loyalitas mutlak dari jajarannya.
Copyrights © 2026