This article discuss the development of anti- colonial interpretation in Indonesia as response intellectual Muslims towards domination and oppression Dutch colonialism . Through approach qualitative with method studies literature , research This browse context historical event that gave birth tradition of interpretation oriented resistance , identifying figures main such as Ahmad Hassan, KH Ahmad Sanusi, Mahmud Yunus, and HAMKA, as well analyze form response hermeneutics they to situation colonial . Study results show that the anti- colonial interpretation appear as effort articulate values justice , freedom , and rejection to injustice through interpretation verses of the Koran. Mufassir use approach contextual For adapt the message of the Qur'an with condition socio-political Muslims during the colonial period . Interpretation no only functioning as text religious , but also as instrument liberation that plays a role in awaken awareness nationality and strengthening movement resistance . The legacy of this interpretation still relevant as base development responsive interpretation of the Qur'an to issues injustice contemporary . Abstrak Artikel ini membahas perkembangan tafsir anti-kolonial di Indonesia sebagai respons intelektual umat Islam terhadap dominasi dan penindasan kolonial Belanda. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, penelitian ini menelusuri konteks historis yang melahirkan tradisi tafsir berorientasi perlawanan, mengidentifikasi tokoh-tokoh utama seperti Ahmad Hassan, KH Ahmad Sanusi, Mahmud Yunus, dan HAMKA, serta menganalisis bentuk respons hermeneutika mereka terhadap situasi kolonial. Hasil kajian menunjukkan bahwa tafsir anti-kolonial muncul sebagai upaya mengartikulasikan nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan penolakan terhadap ketidakadilan melalui penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Para mufassir menggunakan pendekatan kontekstual untuk menyesuaikan pesan Al-Qur’an dengan kondisi sosial-politik umat Islam pada masa penjajahan. Tafsir tidak hanya berfungsi sebagai teks keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen pembebasan yang berperan dalam membangkitkan kesadaran kebangsaan dan memperkuat gerakan perlawanan. Warisan tafsir ini tetap relevan sebagai dasar pengembangan penafsiran Al-Qur’an yang responsif terhadap isu-isu ketidakadilan kontemporer.
Copyrights © 2026