Keandalan sistem transmisi tenaga listrik sangat bergantung pada ketersediaan suku cadang kritis untuk kegiatan pemeliharaan dan pemulihan gangguan. PT PLN (Persero) saat ini mengoperasikan jaringan gudang terdesentralisasi yang menghadapi permasalahan berupa duplikasi persediaan, akumulasi deadstock, distribusi stok yang tidak merata, serta risiko kehabisan persediaan (stockout). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi strategi gudang desentralisasi, sentralisasi, dan hybrid menggunakan kerangka Multi-Criteria Decision-Making (MCDM) yang mengintegrasikan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Penelitian dilakukan pada PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) dengan menggunakan data operasional gudang dan penilaian pakar. Evaluasi dilakukan berdasarkan enam kriteria, yaitu biaya logistik, tingkat pelayanan, lead time distribusi, risiko stockout, utilisasi kapasitas gudang, dan fleksibilitas operasional. Hasil menunjukkan bahwa risiko stockout (0,305) merupakan kriteria paling berpengaruh, diikuti tingkat pelayanan (0,262) dan lead time distribusi (0,186). Strategi gudang hybrid memperoleh nilai TOPSIS tertinggi (Ci = 0,650), sedangkan analisis sensitivitas menunjukkan konfigurasi 60% Hub–40% Buffer sebagai skenario terbaik. Penelitian ini menghasilkan kerangka pengambilan keputusan berorientasi keandalan untuk mendukung pemilihan strategi gudang suku cadang transmisi.
Copyrights © 2026