Artikel ini membahas karya tari kontemporer “Tubuh Equilibrium”, yang menginterpretasikan filosofi paéh hiji-hirup hiji dalam masyarakat Sunda. Penelitian ini mengkaji bagaimana filosofi keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat menjadi inspirasi bagi sebuah karya tari. Konsep paéh hiji-hirup hiji, yang berarti “satu mati, satu hidup,” dipahami sebagai prinsip keseimbangan yang menegaskan dualitas hidup dan mati dalam ruang dan waktu yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses transformasi sebuah ide menjadi karya seni melalui pendekatan penelitian berbasis praktik. Untuk mencapai hal ini, penelitian ini menggunakan metode penelitian artistik di mana tubuh para penari menjadi medium untuk penelitian dan ekspresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh bukan sekadar medium estetika, melainkan ruang sirkular yang menyimpan memori, mengalami pengulangan, dan bertransformasi. Kontribusi utama karya ini adalah reinterpretasi tradisi Jaipongan dalam konteks kontemporer, dengan menekankan bahwa dualitas hidup dan mati bukanlah penggantian, melainkan siklus dinamis keseimbangan. Pada akhirnya, penelitian ini menawarkan perspektif baru tentang bagaimana filosofi yang tertanam dalam masyarakat tradisional dapat menjadi sumber inspirasi bagi karya tari.
Copyrights © 2026