Penelitian ini menganalisis konstruksi destinasi wisata Sumatra Barat dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis melalui pendekatan sastra pariwisata dengan memadukan konsep geografi imajiner Edward Said dan the tourist gaze John Urry. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik studi pustaka dan analisis isi teks novel sebagai data primer, serta didukung sumber-sumber sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sumatra Barat dikonstruksi secara dualistik: ruang kultural pedalaman, seperti Solok, digambarkan sebagai ruang adat yang kaku dan mengungkung, sedangkan ruang lanskap, seperti Padang, Kayutanam, Koto Anau, Singkarak, dan Bukittinggi, direpresentasikan sebagai wilayah yang indah, sejuk, dan menarik secara visual. Selain itu, novel ini menampilkan berbagai bentuk tatapan wisata, mulai dari tatapan romantis, bingkai semiotik, tatapan kolektif, tatapan rasial, hingga tatapan antropologis, yang bersama-sama membentuk citra Sumatra Barat sebagai destinasi wisata potensial pada masa kolonial. Temuan ini menunjukkan bahwa Salah Asuhan tidak hanya berfungsi sebagai teks sastra, tetapi juga sebagai arsip pariwisata awal yang turut membentuk imajinasi destinasi daerah.
Copyrights © 2026