Transformasi digital telah menggeser praktik dakwah dari ruang mimbar, majelis taklim, dan komunikasi tatap muka menuju ekosistem media sosial yang lebih terbuka, cepat, dan interaktif. Perubahan ini menimbulkan kontestasi paradigma di kalangan mahasiswa, terutama dalam memaknai hubungan antara dakwah konvensional yang berbasis otoritas keagamaan tradisional dan dakwah kontemporer yang menuntut adaptasi terhadap budaya digital. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada mahasiswa FUAD UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Data diperoleh melalui observasi partisipatif dalam aktivitas pembelajaran dakwah serta wawancara mendalam dengan mahasiswa dan dosen. Analisis dilakukan melalui deskripsi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi kritis, dengan memperhatikan triangulasi sumber dan metode. Temuan menunjukkan tiga pola pemahaman mahasiswa terhadap dakwah, yaitu tekstual-konvensional, transisional-adaptif, dan kontemporer-kritis. Kontestasi tersebut dipengaruhi oleh cara mahasiswa menafsirkan teks keagamaan, persistensi otoritas dakwah tradisional, dan tekanan transformasi digital. Dakwah konvensional dan kontemporer tidak sepenuhnya berlawanan, melainkan membentuk kontinum negosiasi yang saling berkelindan. Keterbatasan kajian ini terletak pada konteks satu perguruan tinggi, sehingga generalisasi temuan masih terbatas. Namun, hasilnya memberikan implikasi teoritis bagi pengembangan kajian dakwah, mediatisasi agama, dan pendidikan Islam. Secara praktis, temuan ini menegaskan pentingnya penguatan literasi digital, kreativitas metode dakwah, dan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan nilai keislaman dengan media kontemporer. Nilai kebaruan kajian ini terletak pada tawaran model hibridisasi dakwah yang menekankan kesinambungan epistemologis, fleksibilitas metodis, responsivitas media, dan literasi kritis.
Copyrights © 2026