Tingkat ketergantungan petani padi Indonesia terhadap pupuk anorganik dan pestisida kimia untuk pengendalian OPT sangat tinggi mencapai lebih dari 75% dari total penggunaan bahan kimia pada usahatani padi. Penggunaan bahan kimia yang berlebih menyebabkan berbagai krisis lingkungan dan kerusakan ekosistem sehingga menurunkan produksi padi. Salah satu cara untuk mengatasi ketergantungan petani padi terhadap penggunaan bahan kimia dilakukan dengan melakukan budidaya padi secara organik. Meskipun demikian hingga saat ini budidaya padi masih didominasi oleh budidaya padi non organik. Oleh itu penting dilakukan analisis untuk mengetahui kinerja kedua usahatani tersebut di Kabupaten Bondowoso dengan melihat tingkat keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keberlanjutan usahatani padi organik dan non organik di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Responden sebanyak 158, terdiri atas 64 petani padi organik dan 94 petani padi non organik, dipilih secara Proportionate Stratified Random Sampling. Untuk membandingkan keberlanjutan usahatani padi tersebut, maka diukur indeks dan status keberlanjutannya dengan menggunakan metode Multidimensional Scaling (MDS) yang berfokus pada aspek ekonomi, sosial, lingkungan, kelembagaan dan teknologi. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan usahatani padi organik sebesar 84.623 dengan status sangat berkelanjutan. Sedangkan. indeks keberlanjutan usahatani padi non organik sebesar 46.401 dengan status kurang berkelanjutan. Hasil ini menunjukkan bahwa usahatani padi organik lebih berkelanjutan dibandingkan dengan usahatani padi non organik.
Copyrights © 2026