Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan Riskesdas 2018, Gunungkidul menempati peringkat pertama prevalensi hipertensi di wilayah DIY, yaitu sebesar 39,25%. Kondisi ini menuntut adanya upaya promotif dan preventif melalui pendekatan yang mudah diterima masyarakat. Jamu, sebagai warisan budaya bangsa, memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai terapi komplementer, namun sebagian besar penggunaannya masih bersifat empiris. Oleh karena itu, diperlukan edukasi saintifikasi jamu agar masyarakat mampu memanfaatkan tanaman herbal secara lebih aman, efektif, dan berbasis bukti ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Semanu, Gunungkidul, mengenai pembuatan jamu saintifik antihipertensi. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif melalui pelatihan berupa ceramah, praktik pembuatan jamu, diskusi, serta evaluasi menggunakan kuesioner pretest–posttest. Subjek penelitian berjumlah 46 orang yang terdiri dari kader posyandu dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata pengetahuan peserta dari 67% pada pretest menjadi 81% pada posttest. Peningkatan terbesar terjadi pada pemahaman teknis seperti lama perebusan dan penggunaan panci kendil, sementara aspek komposisi herbal, penyimpanan ramuan, dan interaksi jamu-obat masih rendah. Kesimpulannya, edukasi saintifikasi jamu antihipertensi efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat serta mendapat apresiasi positif dari peserta. Ke depan, perlu penekanan lebih lanjut pada aspek interaksi obat-herbal, penyimpanan ramuan, serta peningkatan daya tanggap narasumber melalui diskusi yang lebih interaktif.
Copyrights © 2026