Fenomena balap liar remaja di Kota Bekasi masih menjadi persoalan sosial yang berisiko terhadap keselamatan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara aktivitas rutin remaja, kondisi ruang publik, serta interaksi media sosial dalam membentuk peluang terjadinya balap liar dengan menggunakan perspektif Routine Activity Theory. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling, melibatkan dua remaja pelaku. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balap liar terjadi karena terpenuhinya tiga elemen utama, yaitu pelaku yang termotivasi oleh pencarian sensasi, pengakuan sosial, dan keuntungan ekonomi, keberadaan target yang sesuai berupa jalan yang lurus dan sepi, serta lemahnya pengawasan akibat ketidakkonsistenan kontrol sosial. Aktivitas rutin seperti nongkrong dan interaksi di lingkungan bengkel menjadi konteks yang mempertemukan ketiga elemen tersebut, sementara media sosial berperan sebagai sarana komunikasi yang mempercepat koordinasi. Dengan demikian, balap liar merupakan fenomena situasional yang memperkuat relevansi Routine Activity Theory dalam menjelaskan perilaku menyimpang remaja di era digital.
Copyrights © 2026