Abstrak: Kampanye politik di Indonesia bergeser dari jaringan buzzer manusia yang terkoordinasi menuju sistem mikro-targeting berbasis algoritma. Penelitian ini menelusuri trajektori pergeseran tersebut dan konsekuensinya bagi fragmentasi ruang publik digital serta kualitas demokrasi elektoral. Melalui pendekatan sintesis literatur integratif (Torraco, 2016; Whittemore & Knafl, 2005) dengan analisis tematik interpretatif (Braun & Clarke, 2006), kajian ini menelusuri tiga momen kritis: Pilkada DKI Jakarta 2017, Pemilu Presiden 2019, dan Pemilu 2024. Korpus literatur diambil dari basis data Scopus, Sinta, dan Google Scholar, dilengkapi laporan lembaga pengawas pemilu serta arsip publik Meta Ad Library. Penelusuran sistematis pada periode Januari–April 2026 tidak menjumpai studi yang mengintegrasikan konsep algorithmic enclaves dengan kerangka propaganda komputasional untuk membaca evolusi longitudinal ekosistem kampanye digital Indonesia lintas ketiga momen tersebut. Tiga temuan utama muncul. Pertama, ekosistem buzzer Indonesia berkembang dari jaringan manusia informal menjadi sistem semi-organik yang memadukan agen manusia dengan algoritma platform. Kedua, algoritma media sosial aktif membentuk algorithmic enclaves yang memperdalam fragmentasi pemilih berdasarkan garis identitas dan isu. Ketiga, praktik mikro-targeting yang terus meluas mengancam prinsip deliberasi publik yang menopang demokrasi substantif. Kontribusi utama penelitian ini adalah k Kampanye politik di Indonesia bergeser dari jaringan buzzer manusia yang terkoordinasi menuju sistem mikro-targeting berbasis algoritma. Penelitian ini menelusuri trajektori pergeseran tersebut dan konsekuensinya bagi fragmentasi ruang publik digital serta kualitas demokrasi elektoral. Melalui pendekatan sintesis literatur integratif (Torraco, 2016; Whittemore & Knafl, 2005) dengan analisis tematik interpretatif (Braun & Clarke, 2006), kajian ini menelusuri tiga momen kritis: Pilkada DKI Jakarta 2017, Pemilu Presiden 2019, dan Pemilu 2024. Korpus literatur diambil dari basis data Scopus, Sinta, dan Google Scholar, dilengkapi laporan lembaga pengawas pemilu serta arsip publik Meta Ad Library. Penelusuran sistematis pada periode Januari–April 2026 tidak menjumpai studi yang mengintegrasikan konsep algorithmic enclaves dengan kerangka propaganda komputasional untuk membaca evolusi longitudinal ekosistem kampanye digital Indonesia lintas ketiga momen tersebut. Tiga temuan utama muncul. Pertama, ekosistem buzzer Indonesia berkembang dari jaringan manusia informal menjadi sistem semi-organik yang memadukan agen manusia dengan algoritma platform. Kedua, algoritma media sosial aktif membentuk algorithmic enclaves yang memperdalam fragmentasi pemilih berdasarkan garis identitas dan isu. Ketiga, praktik mikro-targeting yang terus meluas mengancam prinsip deliberasi publik yang menopang demokrasi substantif. Kontribusi utama penelitian ini adalah konsep ekosistem propaganda komputasional berlapis sebagai kerangka analitik baru untuk konteks non-Barat. onsep ekosistem propaganda komputasional berlapis sebagai kerangka analitik baru untuk konteks non-Barat.
Copyrights © 2026