Transformasi sistem pembiayaan kesehatan melalui skema berbasis kasus, seperti INA-CBG dan Diagnosis Related Groups (DRG), telah membawa perubahan signifikan dalam pengelolaan pelayanan rumah sakit. Sistem ini menuntut standardisasi serta ketepatan diagnosis yang bergantung pada penggunaan ICD-10. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara INA-CBG, DRG, dan ICD-10 dalam konteks pembiayaan layanan kesehatan, serta mengeksplorasi kontribusinya terhadap efisiensi biaya dan pengelolaan layanan. Penelitian menggunakan pendekatan narrative review dengan penelusuran literatur melalui Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci terkait sistem pembayaran berbasis kasus dan klasifikasi diagnosis. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem pembayaran berbasis kasus berperan dalam meningkatkan efisiensi biaya melalui mekanisme tarif paket yang membatasi penggunaan sumber daya. Akurasi pengkodean diagnosis menggunakan ICD-10 menjadi faktor krusial dalam menentukan pengelompokan kasus dan besaran klaim. Ketidaktepatan coding dapat menyebabkan inefisiensi pembiayaan, sedangkan pemanfaatan teknologi dan pendekatan berbasis data dapat meningkatkan kualitas coding. Efisiensi yang dihasilkan bervariasi tergantung pada kompleksitas kasus, struktur biaya, serta kapasitas sumber daya manusia dan sistem informasi di rumah sakit. Disimpulkan bahwa INA-CBG dan DRG memiliki potensi dalam mendorong efisiensi biaya, namun keberhasilannya bergantung pada kualitas pengkodean, kapasitas implementasi, dan evaluasi sistem yang berkelanjutan. Kata kunci ; INA-CBG, DRG, ICD-10, case-based payment, health financing, cost efficiency, hospital services
Copyrights © 2026