Luka mekanik, baik berupa lecet, sayatan, maupun tusukan, merupakan insiden medis yang paling sering ditemui dalam dinamika aktivitas remaja di sekolah. Karakteristik remaja yang aktif secara fisik dalam kegiatan olahraga maupun organisasi meningkatkan risiko terjadinya cedera integritas kulit di lingkungan sekolah. Kejadian luka sangat umum, terdapat kesenjangan pengetahuan yang lebar antara protokol medis standar dengan praktik mandiri di masyarakat. Salah satu tantangan utama adalah dominasi "mitos kesehatan" atau kebiasaan turun-temurun yang secara medis yang secara medis kurang tepat namun masih diyakini kebenarannya. Fenomena rendahnya literasi kesehatan di kalangan remaja seringkali melanggengkan mitos perawatan luka yang keliru, seperti penggunaan antiseptik keras yang bersifat sitotoksik. Pengabdian masyarakat ini bertujuan melakukan dekonstruksi pemahaman siswa salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Tasikmalaya melalui intervensi pendidikan kesehatan berbasis praktik. Menggunakan desain one-group pretest-posttest pada 23 siswa, edukasi diberikan melalui metode multimodal (ceramah, video, dan demonstrasi). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan skor rata-rata dari 81 menjadi 90. Program ini menunjukkan bahwa pendekatan demonstrasi efektif dalam mengoreksi kesalahan prosedural pertolongan pertama pada luka di lingkungan sekolah.
Copyrights © 2026