Kesepian merupakan salah satu masalah psikososial yang sering dialami oleh lanjut usia dan dapat berdampak pada penurunan kesehatan mental serta kualitas hidup. Interaksi sosial menjadi faktor penting yang berperan dalam menjaga kesejahteraan psikososial lansia, terutama bagi mereka yang tinggal di komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara interaksi sosial, kesepian, dan kualitas hidup pada lansia di komunitas. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 332 lansia berusia ≥60 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, yang dipilih menggunakan teknik multistage sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner Social Interaction Questionnaire (SIQ) untuk mengukur interaksi sosial, De Jong Gierveld Loneliness Scale untuk mengukur kesepian, serta WHOQOL-BREF untuk menilai kualitas hidup. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memiliki tingkat interaksi sosial yang tinggi (67,8%), namun mayoritas masih mengalami kesepian pada tingkat sedang (44,9%), serta memiliki kualitas hidup pada kategori sedang (50,9%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara interaksi sosial dan kesepian (r = −0,325; p = 0,001) serta hubungan positif yang signifikan antara interaksi sosial dan kualitas hidup (r = 0,494; p = 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan interaksi sosial berperan dalam menurunkan tingkat kesepian dan meningkatkan kualitas hidup lansia. Oleh karena itu, intervensi berbasis komunitas yang mendorong keterlibatan sosial lansia perlu dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial dan kualitas hidup lansia di masyarakat
Copyrights © 2026