Siaran langsung marathon kini berkembang menjadi tren media digital partisipatif yang menggabungkan interaksi emosional audiens dan transaksi ekonomi secara real-time. Studi kualitatif ini menggunakan pendekatan netnografi dengan menganalisis secara tematik 150 pesan obrolan untuk membedah bagaimana keintiman digital, identitas kelompok, donasi, dan visibilitas penonton dibangun dalam durasi siaran yang ekstrem. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa keintiman digital justru terbangun dari rasa lelah yang dirasakan bersama antara kreator dan pemirsa, sehingga mampu mengubah hubungan parasosial satu arah menjadi relasi dua arah yang hidup. Dari kebersamaan ekstrem ini, penonton membentuk sebuah 'klan' virtual yang protektif lewat lelucon internal dan ritual bahasa kelompok. Sementara itu, tindakan donasi bergeser makna dari sekadar transaksi finansial menjadi tindakan simbolis berbasis monetisasi afektif untuk mencari pengakuan sosial. Papan peringkat (leaderboard) yang awalnya memisahkan kasta kontributor juga dimaknai ulang oleh komunitas menjadi arsip sejarah gotong royong (hall of fame). Secara teoretis, studi ini berhasil memperluas cakupan teori interaksi parasosial tradisional ke dalam lingkungan media penyiaran baru yang sinkron. Hasilnya dapat menjadi panduan praktis bagi kreator dan perancang platform untuk merestrukturisasi ruang publik siber menjadi rumah virtual yang inklusif, akrab, dan aman bagi komunitasnya.
Copyrights © 2026