Evaluasi karya dalam pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) selama ini kerap didominasi oleh penilaian subjektif yang bersandar pada intuisi estetika. Di tengah disrupsi kecerdasan buatan (AI) yang kini mampu memproduksi gambar secara instan, mahasiswa desain dituntut untuk tidak sekadar menghasilkan karya yang indah secara wujud, melainkan rancangan yang teruji efektivitas komunikasinya. Kajian ini mengeksplorasi pemanfaatan teknologi pelacakan mata (eye-tracking) sebagai instrumen empiris di ruang kelas studio desain untuk menjembatani celah antara asumsi visual perancang dan kognisi audiens yang sebenarnya. Melalui dua studi kasus eksperimental, yakni perancangan ulang tata letak cue card yang menuntut ketegasan navigasi hierarkis, serta evaluasi poster kampanye sosial yang mengandalkan daya tarik emosional. Artikel ini membedah bagaimana pemetaan fiksasi visual (attention map dan scanpaths) dikonversi menjadi objektivitas data. Hasil pengujian menunjukkan bahwa integrasi eye-tracking secara fundamental mampu mengubah dinamika evaluasi, dari perdebatan selera yang defensif menjadi diskusi analitis yang digerakkan oleh metrik Area of Interest (AOI). Kesimpulannya, adopsi instrumen berbasis data ini menawarkan pergeseran paradigma pedagogis yang krusial. Teknologi ini melatih empati visual mahasiswa untuk merekayasa navigasi audiens dengan presisi, sekaligus mempersiapkan mereka untuk merespons tuntutan profesionalitas industri kreatif di masa depan.Kata-kata kunci: pendidikan desain, desain komunikasi visual, eye-tracking, evaluasi visual, psikologi persepsi, pedagogi berbasis bukti.
Copyrights © 2026