Aurelie Moeremans’ memoir Broken Strings (2025) reveals emotional manipulation, sexual abuse, and psychological violence experienced by a 15-year-old girl, while also exposing the politics of non-alignment practiced by institutions surrounding the survivor. This study aimed to analyze how power relations and institutional dysfunction isolate survivors from the perspective of structural functionalism. This research employs a qualitative descriptive method using narrative analysis of memoirs as primary data, supported by secondary sources, such as news reports, institutional documents, and social media discourse. The findings show that the memoir exposes failures within institutional functions, including weak protection systems, victim blaming, and delayed public responses, which reinforce the silencing of survivors. Simultaneously, Broken Strings function as a form of survivor advocacy that pressures institutions to shift from silence to public accountability. This study contributes to gender and child studies in Indonesia by demonstrating how survivor narratives can challenge structural failures and encourage broader social awareness of child abuse and grooming. [Memoar Broken Strings (2025) karya Aurelie Moeremans mengungkap manipulasi emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan psikologis yang dialami seorang remaja perempuan berusia 15 tahun, sekaligus memperlihatkan politik ketidakberpihakan yang dilakukan institusi di sekitar korban. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana relasi kuasa dan disfungsi institusional mengisolasi penyintas melalui perspektif struktural fungsionalisme. Penelitian menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan analisis naratif terhadap memoir sebagai data utama, didukung berita, dokumen institusi, dan diskursus media sosial sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memoar tersebut mengungkap kegagalan fungsi institusi, seperti lemahnya sistem perlindungan, praktik menyalahkan korban, dan lambatnya respons publik yang memperkuat pembungkaman korban. Di sisi lain, Broken Strings berfungsi sebagai bentuk advokasi penyintas yang mendorong institusi bergeser dari sikap diam menuju akuntabilitas publik. Penelitian ini berkontribusi pada kajian gender dan anak di Indonesia dengan menunjukkan bahwa narasi penyintas dapat menjadi sarana untuk menantang kegagalan struktural dan meningkatkan kesadaran sosial mengenai kekerasan terhadap anak serta child grooming].
Copyrights © 2026