Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Vol. 14 No. 1: Juni 2026

Tantangan komunikasi sains di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia: tinjauan literatur

Noer Komari (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia)
Fahruraji Fahruraji (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia)
Norliana Norliana (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia)
Asnah Asnah (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia)



Article Info

Publish Date
25 Jun 2026

Abstract

Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat mengakses dan menggunakan informasi. Namun, masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses teknologi, rendahnya literasi digital, serta tingginya kerentanan terhadap hoaks dan misinformasi. Kondisi tersebut menjadikan komunikasi sains sebagai instrumen penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap informasi ilmiah dan mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode narrative review. Data dikumpulkan dari berbagai sumber literatur, meliputi artikel jurnal ilmiah, laporan kebijakan, dan publikasi akademik yang membahas perilaku informasi, etika digital, kesenjangan digital, serta komunikasi sains di wilayah 3T. Data dianalisis menggunakan sintesis tematik naratif dengan mengidentifikasi pola, tema, dan hubungan antarkonsep yang muncul dalam literatur. Analisis difokuskan pada kepercayaan terhadap sumber informasi, kesenjangan digital, penyebaran misinformasi, dan strategi komunikasi sains yang diterapkan pada masyarakat 3T. Hasil kajian menunjukkan bahwa perilaku informasi masyarakat 3T dipengaruhi oleh keterbatasan akses digital, nilai budaya lokal, dan tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi. Tokoh adat, tokoh masyarakat, dan media tradisional masih menjadi sumber informasi yang paling dipercaya. Kesenjangan digital tidak hanya terjadi pada aspek akses, tetapi juga keterampilan, pemanfaatan teknologi, dan dukungan lingkungan, yang memunculkan fenomena silent exclusion. Selain itu, hoaks dan misinformasi pada isu kesehatan, lingkungan, serta sosial-politik masih menjadi tantangan utama. Komunikasi sains terbukti lebih efektif ketika menggunakan bahasa daerah, media visual, pelibatan tokoh lokal, serta pendekatan partisipatif yang sesuai dengan konteks budaya masyarakat. Komunikasi sains yang efektif di wilayah 3T memerlukan pendekatan yang inklusif, partisipatif, dan peka budaya. Penguatan literasi digital, pelibatan tokoh lokal, serta integrasi media tradisional dan digital menjadi strategi penting untuk mengurangi kesenjangan informasi dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sains

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

pustakakarya

Publisher

Subject

Arts Library & Information Science Social Sciences

Description

Jurnal ini menerbitkan artikel dengan topik Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. Terbit setiap 2 kali dalam satu tahun di bulan Juni dan ...