Transformasi sistem kerja hybrid, yang menggabungkan kerja jarak jauh dan tatap muka semakin meluas pascapandemi, namun penelitian sebelumnya masih kurang mendalami dampaknya terhadap kesehatan mental karyawan di Indonesia, khususnya dalam konteks budaya kerja kolektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kerja hybrid terhadap kesehatan mental karyawan khususnya terkait stres, isolasi sosial, dan keseimbangan kerja hidup serta mengidentifikasi faktor positif seperti fleksibilitas dan otonomi kerja, faktor negatif seperti ketidakjelasan batas kerja dan kurangnya interaksi sosial, guna merumuskan kebijakan kerja hybrid yang meminimalkan dampak negatif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui kajian literatur dan analisis tematik terhadap pengalaman kerja hybrid. Temuan utama menunjukkan bahwa kerja hybrid memberikan manfaat berupa peningkatan fleksibilitas dan otonomi kerja, tetapi juga memicu isolasi sosial, ketidakjelasan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta peningkatan stres emosional akibat berkurangnya interaksi tatap muka. Kesimpulannya, sistem kerja hybrid memiliki dampak ganda yang perlu dikelola melalui intervensi organisasi yang tepat agar kesehatan mental karyawan tetap terjaga. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa wawasan mendalam bagi praktisi sumber daya manusia dalam merancang kebijakan kerja hybrid yang lebih berorientasi pada kesejahteraan karyawan, serta menjadi dasar bagi penelitian lanjutan di berbagai sektor industri.
Copyrights © 2026