Kajian literatur ini menganalisis secara kritis sistem distribusi logistik di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) Indonesia melalui pendekatan kualitatif yang berbasis gap (gap-driven). Dengan menelusuri tujuh penelitian utama yang terbit antara 2010 hingga 2026, kajian ini mengidentifikasi adanya titik buta epistemologis yang sistematis dan terus berulang: penelitian kuantitatif telah berhasil mengukur determinan teknis efisiensi distribusi, seperti kondisi jalan, jenis transportasi, pemodelan rute berbasis gravitasi, dan volatilitas harga (Adam et al., 2021; Akbardin et al., 2023; Inke et al., 2025), namun tidak satu pun yang menjelaskan mekanisme informal, sosial, dan institusional yang sesungguhnya menentukan keberhasilan atau kegagalan sistem distribusi di lapangan. Temuan menunjukkan bahwa inisiatif digitalisasi pemerintah, seperti Program Tol Laut yang didukung platform SITOLAUT dan SILOGNAS, terbukti menurunkan disparitas harga di wilayah 3T, namun tetap bergantung secara struktural pada subsidi akibat rendahnya muatan balik yang kronis, hanya 5–10% dari kapasitas kapal (Fachrudin et al., 2025). Pada saat yang sama, evaluasi kebijakan distribusi pangan di Gorontalo Utara mengungkap dikotomi yang kritis: akses fisik terhadap pangan dinilai tinggi (rata-rata 4,2) sementara stabilitas harga (rata-rata 2,4) dan keterjangkauan (rata-rata 2,5) dinilai rendah, dengan stabilitas harga muncul sebagai prediktor paling dominan terhadap kepuasan publik (β = 0,452) (Ngabito et al., 2026). Kajian ini berargumen bahwa kesenjangan yang konsisten muncul di seluruh penelitian, yaitu absennya perspektif emik komunitas tentang mekanisme distribusi informal, menjadi justifikasi utama bagi penelitian kualitatif tentang distribusi logistik wilayah 3T. Model Integrasi Tiga Pilar (MIT-3T) diusulkan sebagai kerangka analitis bagi penelitian kualitatif selanjutnya.
Copyrights © 2026