Pekerja transportasi darat merupakan kelompok yang berisiko tinggi mengalami pajanan polusi udara akibat paparan emisi kendaraan bermotor secara terus-menerus. Paparan tersebut dapat menimbulkan gangguan sistem pernapasan, termasuk keluhan sesak napas. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan antara pajanan polusi udara dengan keluhan sesak napas pada pekerja transportasi darat PT Catur Putra Manunggal. Studi analitik observasional dengan desain potong lintang dilakukan pada Desember 2024 terhadap 95 sopir dan kernet truk PT Catur Putra Manunggal. Data pajanan polusi udara diperoleh dari Status Mutu Udara Ambien Wilayah DKI Jakarta Tahun 2024 berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sedangkan keluhan sesak napas dinilai menggunakan kuesioner Modified Medical Research Council (mMRC). Analisis hubungan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Sebanyak 51,6% responden berada pada kategori pajanan polusi udara tinggi dan 18,9% mengalami sesak napas ringan (mMRC grade 1). Mayoritas responden tidak menggunakan masker saat bekerja (77,9%). Analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pajanan polusi udara dan keluhan sesak napas (p=0,368). Namun, nilai prevalence risk ratio (PRR) sebesar 1,48 (IK95%: 0,877–1,702) menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko sesak napas pada kelompok dengan pajanan lebih tinggi. Pajanan polusi udara tidak berhubungan secara bermakna dengan keluhan sesak napas, namun menunjukkan kecenderungan meningkatkan risiko sesak napas pada pekerja transportasi darat.
Copyrights © 2026