Penelitian ini mengkaji fenomena confession anonim sebagai media katarsis digital bagi Generasi Z di platform X melalui sudut pandang Online Disinhibition Effect (ODE) dan pengungkapan diri. Menggunakan metode studi kepustakaan (library research), artikel ini menganalisis bagaimana melonggarnya hambatan psikologis di lingkungan daring memengaruhi intensitas pengungkapan diri. Hasil analisis menunjukkan bahwa enam faktor disinhibisi online terutama anonimitas disosiatif dan ketidakterlihatan memfasilitasi pengguna untuk melakukan pengungkapan diri secara lebih bebas dibandingkan dalam interaksi di dunia nyata. Ketika pengungkapan diri ini mendapatkan respons positif, terjadi proses katarsis (benign disinhibition) yang memberikan kelegaan emosional melalui fenomena yang dikenal sebagai ‘nyambat’. Namun, dinamika ini bersifat ambivalen (saling bertentangan). Jika terjebak dalam toxic disinhibition, aktivitas ini justru memicu oversharing, overthinking, dan kerentanan terhadap cyberbullying yang memperburuk kesejahteraan emosional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun ruang anonim di platform X dapat berfungsi sebagai media pelepasan emosi yang efektif, keberhasilannya sangat bergantung pada literasi digital pengguna dan kesadaran akan batasan dalam mengelola privasi.
Copyrights © 2026