Penelitian ini mengkaji bagaimana budaya konvergensi membentuk praktik budaya visual di Asia Tenggara melalui analisis komparatif terhadap karya visual yang dikembangkan oleh Les’ Copaque (Malaysia) dan Visinema (Indonesia). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif komparatif dengan analisis tematik terhadap wawancara mendalam, observasi konten visual digital, dan dokumentasi sekunder untuk menganalisis pembentukan identitas visual, praktik distribusi lintas media, serta partisipasi audiens dalam proses produksi makna visual. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua pola konvergensi yang berbeda. Les’ Copaque merepresentasikan konvergensi organik yang tercermin melalui konsistensi identitas visual, kedekatan kultural, serta keterlibatan audiens yang berkembang secara alami sehingga memperkuat resonansi visual dan emosional. Sebaliknya, Visinema merepresentasikan konvergensi strategis yang mengintegrasikan perancangan identitas visual, distribusi lintas platform, dan promosi digital secara terencana untuk memperluas jangkauan serta memperkuat pengalaman visual audiens. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua pendekatan tersebut menawarkan strategi yang berbeda dalam membangun budaya visual, legitimasi kultural, dan keberlanjutan representasi visual di era media digital. Penelitian ini merekomendasikan model konvergensi hibrida yang mengombinasikan kekuatan identitas visual, resonansi budaya, dan strategi komunikasi visual yang terintegrasi guna memperkuat keberlanjutan ekosistem media visual di Asia Tenggara.
Copyrights © 2026