Latar Belakang: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat pada balita akibat kekurangan gizi kronis. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah pola pemberian makan, termasuk frekuensi makan, jumlah makan, keberagaman makanan, dan pemberian makanan selingan (snack). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola pemberian makanan dengan kejadian stunting pada balita di Kabupaten Jembrana, Bali. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain case-control ini melibatkan 64 balita usia 12–59 bulan yang terdiri dari 32 kasus dan 32 kontrol. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner pola pemberian makan dan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Jenis kelamin (p=0,023), frekuensi makan (p=0,031), dan pemberian snack (p<0,001) berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Balita dengan frekuensi makan tidak sesuai dan pemberian snack tidak terjadwal lebih banyak ditemukan pada kelompok stunting. Sementara itu, keberagaman makanan (p=0,594) dan jumlah makan (p=0,059) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Simpulan: Frekuensi makan dan keteraturan pemberian snack merupakan komponen pola pemberian makan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Edukasi mengenai pengaturan pola makan dan pemberian snack yang tepat perlu ditingkatkan sebagai upaya pencegahan stunting.
Copyrights © 2026