Ekosistem terumbu karang Indonesia berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati laut dan melindungi kawasan pesisir. Karang encrusting memiliki fungsi vital sebagai perekat struktural dan indikator kesehatan ekosistem. Penurunan tutupan karang serta keterbatasan metode pemantauan konvensional mendorong perlunya penerapan teknologi non-invasif seperti hidroakustik di kawasan konservasi Pulau Ajab, Bintan Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik hambur balik akustik karang encrusting dan hubungan kuantitatif antara Surface Backscattering Strength (SS) dan persentase tutupan karang sebagai dasar pengembangan model pemantauan terumbu berbasis akustik. Penelitian menggunakan desain survei kuantitatif deskriptif dengan purposive sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan single beam echosounder Simrad EK-15 (200 kHz) dan citra bawah air berukuran 50 × 50 cm untuk analisis tutupan dengan PhotoQuad. Hubungan nilai SS dan tutupan karang diuji menggunakan regresi linear sederhana dengan uji homogenitas dan ANOVA pada SPSS. Hasil menunjukkan nilai Volume Backscattering Strength (SV) berkisar −40,99 dB hingga −23,20 dB dan SS antara −40,82 dB hingga −17,23 dB, dengan persentase tutupan karang encrusting 52–85%. Hubungan positif signifikan ditemukan antara SS dan tutupan karang (p = 0,000) dengan persamaan y =0,2819x - 51,546 dan R² = 95%. Disimpulkan bahwa nilai hambur balik akustik dapat digunakan sebagai indikator kondisi karang encrusting. Metode hidroakustik Simrad EK-15 berpotensi menjadi alat pemantauan terumbu karang yang efisien, cepat, dan non-invasif.
Copyrights © 2026