Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
Vol 11, No 1 (2026): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2026

Fondasi Teologis Moderasi Beragama Berdasarkan Lukas 10:25–37: Kajian Eksegetis tentang Orang Samaria yang Murah Hati

Sapta Baralaska Utama Siagian (Sekolah Tinggi Teologi Biblika Jakarta)
Nini Adelina Tanamal (Universitas Indraprasta PGRI)



Article Info

Publish Date
30 Jun 2026

Abstract

Indonesia as a pluralistic society continues to face challenges in the form of intolerance, identity polarization, and weakening of social solidarity. In this context, religious moderation is an important framework to strengthen peaceful coexistence without sacrificing faith beliefs. This study aims to examine how Luke 10:25–37 can be read as a theological foundation for religious moderation through the figure of the Good Samaritan. This study uses a descriptive qualitative approach with a literature study design. Analysis is carried out through historical-grammatical exegetical methods, narrative analysis, and theological-contextual reflection. Primary data are in the form of the text of Luke 10:25–37, while secondary data comes from journal articles, books, and cutting-edge scholarly documents that discuss religious moderation, Jewish–Samaritan relations, compassion, hospitality, and public theology. The results show that the scribes' question of "who is my neighbor?" reflects a tendency to limit moral obligations based on group identity. Jesus responded by overhauling that frame of mind: others are not defined by identity categories, but by real acts of love. The Samaritan became a model of cross-border love embodied in empathy, hospitality, and social responsibility. This study concludes that religious moderation in a Christian perspective does not stop at passive tolerance, but manifests in openness, respect for human dignity, and active involvement in restoring common life. AbstrakIndonesia sebagai masyarakat majemuk terus menghadapi tantangan berupa intoleransi, polarisasi identitas, dan melemahnya solidaritas sosial. Dalam konteks tersebut, moderasi beragama menjadi kerangka penting untuk meneguhkan kehidupan bersama yang damai tanpa mengorbankan keyakinan iman. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana Lukas 10:25–37 dapat dibaca sebagai fondasi teologis bagi moderasi beragama melalui figur Orang Samaria yang Murah Hati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi pustaka. Analisis dilakukan melalui metode eksegetis historis-gramatikal, analisis naratif, dan refleksi teologis-kontekstual. Data primer berupa teks Lukas 10:25–37, sedangkan data sekunder berasal dari artikel jurnal, buku, dan dokumen ilmiah mutakhir yang membahas moderasi beragama, relasi Yahudi–Samaria, belas kasih, hospitalitas, dan teologi publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanyaan ahli Taurat tentang “siapakah sesamaku?” mencerminkan kecenderungan membatasi kewajiban moral berdasarkan identitas kelompok. Yesus merespons dengan merombak kerangka berpikir tersebut: sesama bukan ditentukan oleh kategori identitas, melainkan oleh tindakan kasih yang nyata. Orang Samaria menjadi model kasih lintas batas yang diwujudkan dalam empati, hospitalitas, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa moderasi beragama dalam perspektif Kristen tidak berhenti pada toleransi pasif, tetapi terwujud dalam keterbukaan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keterlibatan aktif dalam memulihkan kehidupan bersama.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

harvester

Publisher

Subject

Religion Humanities Social Sciences

Description

Aim dan Scope HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen mencakup sbb: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Kepemimpinan ...