Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan program Ramah Lingkungan dengan Gerakan Lodong Sampah di Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berlandaskan model Van Meter dan Van Horn, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian mengungkap kebaruan bahwa transisi perilaku masyarakat dari apatis menjadi partisipatif tidak digerakkan oleh kesadaran ekologis organik, melainkan akibat pemaksaan situasi (situational enforcement) pasca-krisis penutupan tempat pembuangan akhir regional kota. Analisis mendalam mengidentifikasi adanya paradoks struktural-fiskal, di mana otoritas kecamatan mengemban beban koordinasi operasional tanpa dibekali diskresi eksekusi anggaran fisik yang secara regulasi melekat di tingkat kelurahan. Selain itu, ditemukan asimetri komunikasi berupa kesenjangan kesadaran merek program di tingkat warga biasa. Simpulan penelitian menegaskan bahwa keberlanjutan tata kelola persampahan urban di wilayah padat menuntut adanya restrukturisasi kebijakan fiskal mikro pemerintahan, pelembagaan kader komunitas berbasis gender, serta integrasi kompensasi insentif ekonomi jangka pendek guna meruntuhkan sekat apatisme lintas kelas sosial masyarakat.
Copyrights © 2026