Masa pemerintahan Raja Adityawarman di Minangkabau pada abad ke-14 menyisakan fenomena keagamaan yang unik melalui dominasi ajaran Buddha Tantrayana sekte Bhairawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jejak peninggalan arkeologis berupa prasasti dan arca, serta menganalisis sejauh mana pengaruh ajaran Tantrayana tersebut berperan dalam legitimasi politik dan pertahanan kerajaan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang mencakup empat tahapan utama, yakni heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adityawarman merupakan penganut Tantrayana yang fanatik dan menjadikannya instrumen perlindungan wilayah dari ancaman luar serta penyebaran agama baru. Jejak peninggalan nyata ditemukan pada Arca Bhairawa setinggi 4,41 meter yang bersifat demonis serta sejumlah prasasti seperti Pagaruyung I dan Saruaso I yang mencatat ritual pentahbisan raja sebagai Ksetrajna bergelar Wisesa Dharani. Temuan ini menegaskan bahwa pengaruh Buddha Tantrayana bukan sekadar praktik religi, melainkan strategi pengukuhan kekuasaan melalui penyetaraan diri raja dengan entitas adikodrati guna menjaga kedaulatan di pedalaman Minangkabau.
Copyrights © 2026