Isu gender pada awalnya lebih sering dipahami sebagai ranah perjuangan perempuan, sehingga keterlibatan laki-laki dalam pembahasan maupun gerakan keadilan gender masih relatif terbatas. Kondisi ini tidak terlepas dari kuatnya konstruksi maskulinitas dalam masyarakat patriarkal yang membentuk cara pandang laki-laki terhadap identitas, peran sosial, serta relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Dalam sistem tersebut, laki-laki kerap diposisikan sebagai pihak yang dominan, rasional, dan kuat, sedangkan keterlibatan dalam isu gender sering dianggap tidak sesuai dengan citra maskulin yang ideal. Padahal, konstruksi patriarki tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga membatasi laki-laki dalam mengekspresikan diri, membangun relasi yang setara, dan memahami pengalaman ketidakadilan secara lebih reflektif. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji meningkatnya kesadaran laki-laki terhadap pentingnya keterlibatan mereka dalam diskursus keadilan gender di Indonesia. Kajian ini menunjukkan bahwa telah muncul kesadaran baru di kalangan laki-laki untuk keluar dari jerat maskulinitas hegemonik dan mengambil peran sebagai mitra perempuan dalam mewujudkan relasi sosial yang lebih adil. Kesadaran tersebut terlihat dari semakin terbukanya ruang dialog, munculnya inisiatif laki-laki pro-keadilan gender, serta meningkatnya partisipasi mereka dalam upaya pencegahan dan penghapusan kekerasan berbasis gender. Dengan demikian, pelibatan laki-laki, merupakan unsur penting dalam mendorong transformasi sosial menuju masyarakat yang lebih inklusif, setara, dan berkeadilan gender.
Copyrights © 2026