Penelitian ini mengkaji konflik sosial antarbudaya di kalangan remaja di Desa Mandiangin, Provinsi Riau. Konflik sosial tersebut dipicu oleh perbedaan adat istiadat, nilai, dan tradisi yang belum terkelola secara optimal dalam kehidupan masyarakat multikultural. Sikap etnosentrisme dan persepsi superioritas budaya turut memperkuat ketegangan antarkelompok remaja yang berasal dari latar belakang etnis yang beragam, seperti Melayu, Jawa, Minangkabau, Nias, dan Batak. Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya kesenjangan sosial serta dinamika politik lokal yang cenderung memberikan dukungan kepada kelompok etnis pribumi, khususnya Melayu Sakai, sehingga menciptakan jarak sosial dan meningkatkan persaingan antarkelompok. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan, pergaulan bebas, tingginya angka pengangguran, serta meningkatnya kenakalan remaja juga menjadi faktor yang memperkuat terjadinya konflik sosial di kalangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengidentifikasi faktor-faktor pemicu konflik serta merumuskan alternatif solusi dalam pengelolaan konflik antarbudaya di kalangan remaja. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi resolusi konflik sosial dalam masyarakat multikultural, khususnya dalam konteks generasi muda.
Copyrights © 2026